Ini
pertama kalinya saya menulis tentang perkosaan. Saya hampir selalu
menghindari membaca maupun mendengar berita perkosaan, terlalu perih
membayangkannya. Sebagai perempuan, saya tahu, bagaimana rasanya mendapat pelecehan. Bukankah perempuan selalu tertafsir sebagai ‘the second sex’. Perkosaan bagaimana pun akan menjadi perjalanan luka, trauma dan derita sang korban, di sepanjang hayat. Dan,
mereka adalah perempuan. Sama seperti saya. Saya selalu memposisikan
diri, seandainya korban itu adalah saya, adik, anak, ibu, keponakan atau
anak-anak sahabat saya yang menjadi korban. Perkosaan adalah kejahatan
besar, yang sangat menghinakan ras manusia. Sangat biadab..
Dalam
banyak kasus, sebenarnya, perkosaan itu jarang yang terungkap.
Bagaimana pun secara psikologis, perempuan menanggung rasa malu yang
luar biasa ketika diketahui bahwa dirinya sudah bukan perawan lagi. Ia
merasa dirinya cacat. Karena itu, dalam banyak kasus ketika mereka sadar
diri tidak ‘suci’ lagi, mereka menjadi tertutup dan mengurung diri.
Dalam beberapa kasus lainnya mereka menjadi pelacur, karena ‘kadung
basah’. Perempuan yang telah diperkosa sudah tak dapat ‘gagah’ lagi menatap dunia. Perempuan yang telah diperkosa merasa
orang yang sangat hina. Karena itu, saya dapat membayangkan, bagaimana
seorang RW diam membungkam berbulan-bulan untuk mengumpulkan kekuatan
perasaan. Terkuak kasusnya ke luar pun sudah menjadi hukuman sosial yang
kedua kalinya setelah perkosaan itu sendiri. Ini tidak mudah dihadapi.
Saya
bukan lelaki. Saya tidak mengerti bagaimana perasaan Sitok ketika
menggauli RW yang diakui oleh Sitok, suka sama suka, sekali pun RW
menyangkalnya. Hanya, saya membayangkan, bagaimana putrinya jika diperlakukan seperti RW ? Apa yang Sitok rasakan ? Untuk seorang budayawan yang menyandang nama besar, bagaimana bisa melacurkan moralnya sendiri.
Saya
membaca tulisan-tulisan Sitok. Ia memang pantas mendapatkan predikat
sebagai penyair besar, bahkan budayawan. Sekalipun pada akhirnya Sitok
harus menjalani episode hidup yang jauh dari berbudaya secara moral.
Mungkin di sana Sitok harus mendapat pelajaran yang besar dalam
hidupnya. Selama ini, ia menikmati banyak penghargaan dan rasa silau
dari banyak orang. Ia harus menjalani, bagaimana merasakan jatuh dan
dihujat banyak orang dengan tindakannya yang memalukan. Ini sangat jauh dari tulisan-tulisannya yang mengalirkan jiwa yang hangat dan lembut.
Sisi Gelap Manusia
Pada
dasarnya, semua manusia memiliki sisi gelap. Bukan hanya Sitok, tetapi
kita juga. Apa yang terlihat, bungkus-bungkus keshalehan seringkali
hanya untuk menyamarkan sisi gelap yang lainnya. Tidak ada satu pun
manusia yang lepas dari sisi gelap, apakah ia kyai, pendeta, pastor atau
bhikku.
Artinya, semua manusia itu berwajah loreng. Kuncinya, semua ada
pada pengendalian diri, dan membimbing sisi gelap dirinya agar tidak
liar. Siapa yang kuasa melawan keindahan dan kenikmatan dunia di depan mata? Orang
yang biasa menuruti kata hati dan perasaan-perasaannya, ia akan
menderita. Bagaimana pun daya nalar tetap penting untuk memperhitungkan
akibat dari tindakan. Pada
kenyataannya, bukan hanya Sitok yang menanggung malu akibat
perbuatannya, tetapi juga istri dan anaknya, dan tentunya keluarganya.
Sitok telah menggali jurang kehidupannya sendiri, dan menelusuri lorong
kelam, yang disusurinya sendiri.
Hasrat
seksual adalah kehendak buta dan membutakan. Sitok hanya salah satu
kasus dari banyak kasus, bagaimana manusia demikian tak berdaya ketika
dihadapkan pada kenikmatan seks. Dengan tidak bermaksud untuk
menyamaratakan para sastrawan dan pekerja seni lainnya, jatuh cinta
berulang-ulang serta berpetualang dalam cinta, seakan telah menjadi kecurigaan yang dilekatkan kepada mereka. Saya teringat kalimat seorang teman yang mengatakan, “Sastrawan yang hebat itu adalah orang yang dapat memunculkan sisi liar dalam dirinya. Dengan demikian, tulisannya akan lebih ‘bernyawa’.” Belajar dari sejarah, ternyata para penulis yang meledak-ledakkan gairah nafsu keduniawian dikenang hanya dengan sedikit rasa hormat, selebihnya yang terbayang hanya sensasi dalam hidupnya saja.
Mungkin, suatu hari, Sitok Srengenge akan berubah. Seorang satrawan mesti ia memiliki perasaan yang halus. Untuk
menjadi rendah hati, mawas diri memang butuh bab pelajaran terjatuh dan
terjerembab. Dalam kisah Abu Nawas, dulu, konon ia pun pencinta
maksiat, lalu sampai pada suatu titik ketika ia masuk penjara membuatnya
tersadar pada kesementaraan dunia. Setelah itu, Abu
Nawas mendekat pada Tuhannya. Terjatuh seperti dialami sang budayawan
besar ini pasti menyakitkan. Jangankan RW dan keluarganya serta
keluarga Sitok, saya pun merasa ngilu dan begitu sakit membacanya.
(2013)
