Sabtu, 08 Februari 2014

Bumi Cinta




PROLOG

Ke mana sayap-sayap cinta akan dikepakkan? Wahai kedamaian yang akan menembus, menyusup dalam jatung-jantung hati manusia. Di jantung mana engkau akan berhenti, berdiam dan menjadi nyala api?  Cinta yang membangunkan orang yang tertidur, menggerakkan orang yang berdiam. Cinta yang membuat gelap menjadi terang. Cinta   membuat yang   membatu menjadi meleleh.


Kepak-kepakan  sayap-sayap cinta, wahai burung-burung.  Engkau  nyanyian alam yang paling berjiwa. Pada  jagat raya yang terbentang luas, tambatkan cinta pada dahan-dahan hati, memupus kembara-kembara sunyi, dan saling berdiam diri. Biarkan cinta yang akan menghangatkan, lalu kami menjadi saling berbicara, saling menatap mesra, dan saling tersenyum lembut.  Di waktu mana, mungkin pula kami akan bergandengan tangan di bumi.  


Terbanglah engkau cinta, ke langit-langit harapan. Di mana bilur-bilur penyesalan pada dendam menjadi pelukan  dan pemaafan. Pada setiap pori-pori langit  ada hujan yang membasahi bumi kerontang, menyeruak wangi pertrichor dari tanah-tanah yang retak. Mungkin engkau akan bersekutu bersama angin, memapar kesejukan di gumuk-gumuk  pasir yang   panas gemeretak. Atau, mungkin engkau akan melintasi bianglala, di mana aneka rupa  warna menjadi pembuka  dinding  hati untuk saling memahami dan menyayangi.


Datanglah wahai cinta, dari seluruh penjuru angin, selimuti  bumi.  Selimutilah kami,  di bumi manusia. BUMI CINTA. Beri kami kekuatan mengasihi  ke seluruh pojok-pojok hati . Cinta yang  memupus  dendam dan  benci.


Minggu, 22 Desember 2013

Sitok Srengenge dan Perkosaan





Ini pertama kalinya saya menulis tentang perkosaan. Saya hampir selalu menghindari membaca maupun mendengar berita perkosaan, terlalu perih membayangkannya. Sebagai perempuan, saya tahu, bagaimana rasanya mendapat pelecehan. Bukankah perempuan selalu tertafsir sebagai ‘the second sex’. Perkosaan bagaimana pun akan menjadi perjalanan luka, trauma dan derita sang korban, di sepanjang hayat. Dan, mereka adalah perempuan. Sama seperti saya. Saya selalu memposisikan diri, seandainya korban itu adalah saya, adik, anak, ibu, keponakan atau anak-anak sahabat saya yang menjadi korban. Perkosaan adalah kejahatan besar, yang sangat menghinakan ras manusia. Sangat biadab..


Dalam banyak kasus, sebenarnya, perkosaan itu jarang yang terungkap. Bagaimana pun secara psikologis, perempuan menanggung rasa malu yang luar biasa ketika diketahui bahwa dirinya sudah bukan perawan lagi. Ia merasa dirinya cacat. Karena itu, dalam banyak kasus ketika mereka sadar diri tidak ‘suci’ lagi, mereka menjadi tertutup dan mengurung diri. Dalam beberapa kasus lainnya mereka menjadi pelacur, karena ‘kadung basah’. Perempuan yang telah diperkosa sudah tak dapat ‘gagah’ lagi menatap dunia. Perempuan yang telah diperkosa merasa orang yang sangat hina. Karena itu, saya dapat membayangkan, bagaimana seorang RW diam membungkam berbulan-bulan untuk mengumpulkan kekuatan perasaan. Terkuak kasusnya ke luar pun sudah menjadi hukuman sosial yang kedua kalinya setelah perkosaan itu sendiri. Ini tidak mudah dihadapi.


Saya bukan lelaki. Saya tidak mengerti bagaimana perasaan Sitok ketika menggauli RW yang diakui oleh Sitok, suka sama suka, sekali pun RW menyangkalnya. Hanya, saya membayangkan, bagaimana putrinya jika diperlakukan seperti RW ? Apa yang Sitok rasakan ? Untuk seorang budayawan yang menyandang nama besar, bagaimana bisa melacurkan moralnya sendiri. 


Saya membaca tulisan-tulisan Sitok. Ia memang pantas mendapatkan predikat sebagai penyair besar, bahkan budayawan. Sekalipun pada akhirnya Sitok harus menjalani episode hidup yang jauh dari berbudaya secara moral. Mungkin di sana Sitok harus mendapat pelajaran yang besar dalam hidupnya. Selama ini, ia menikmati banyak penghargaan dan rasa silau dari banyak orang. Ia harus menjalani, bagaimana merasakan jatuh dan dihujat banyak orang dengan tindakannya yang memalukan. Ini sangat jauh dari tulisan-tulisannya yang mengalirkan jiwa yang hangat dan lembut.


Sisi Gelap Manusia
Pada dasarnya, semua manusia memiliki sisi gelap. Bukan hanya Sitok, tetapi kita juga. Apa yang terlihat, bungkus-bungkus keshalehan seringkali hanya untuk menyamarkan sisi gelap yang lainnya. Tidak ada satu pun manusia yang lepas dari sisi gelap, apakah ia kyai, pendeta, pastor atau bhikku. 
Artinya, semua manusia itu berwajah loreng. Kuncinya, semua ada pada pengendalian diri, dan membimbing sisi gelap dirinya agar tidak liar.  Siapa yang kuasa melawan keindahan dan kenikmatan dunia di depan mata? Orang yang biasa menuruti kata hati dan perasaan-perasaannya, ia akan menderita. Bagaimana pun daya nalar tetap penting untuk memperhitungkan akibat dari tindakan. Pada kenyataannya, bukan hanya Sitok yang menanggung malu akibat perbuatannya, tetapi juga istri dan anaknya, dan tentunya keluarganya. Sitok telah menggali jurang kehidupannya sendiri, dan menelusuri lorong kelam, yang disusurinya sendiri.


Hasrat seksual adalah kehendak buta dan membutakan. Sitok hanya salah satu kasus dari banyak kasus, bagaimana manusia demikian tak berdaya ketika dihadapkan pada kenikmatan seks. Dengan tidak bermaksud untuk menyamaratakan para sastrawan dan pekerja seni lainnya, jatuh cinta berulang-ulang serta berpetualang dalam cinta, seakan telah menjadi kecurigaan yang dilekatkan kepada mereka. Saya teringat kalimat seorang teman yang mengatakan, “Sastrawan yang hebat itu adalah orang yang dapat memunculkan sisi liar dalam dirinya. Dengan demikian, tulisannya akan lebih ‘bernyawa’.” Belajar dari sejarah, ternyata para penulis yang meledak-ledakkan gairah nafsu keduniawian dikenang hanya dengan sedikit rasa hormat, selebihnya yang terbayang hanya sensasi dalam hidupnya saja.


Mungkin, suatu hari, Sitok Srengenge akan berubah. Seorang satrawan mesti ia memiliki perasaan yang halus. Untuk menjadi rendah hati, mawas diri memang butuh bab pelajaran terjatuh dan terjerembab. Dalam kisah Abu Nawas, dulu, konon ia pun pencinta maksiat, lalu sampai pada suatu titik ketika ia masuk penjara membuatnya tersadar pada kesementaraan dunia. Setelah itu, Abu Nawas mendekat pada Tuhannya. Terjatuh seperti dialami sang budayawan besar ini pasti menyakitkan. Jangankan  RW dan keluarganya serta keluarga Sitok, saya pun merasa ngilu dan begitu sakit membacanya.

(2013)

Ibu dan Alkisahku

 
Ibu dan ayahku 
Bahwa, di rahimmu alkisahku bermula. Jauh sebelum itu, aku tak memiliki nama. Aku adalah ruh yang dihembuskan Cinta, dari jagat yang tak berawal dan tak berakhir. Pintu kedatangan dan kepulangannya tak akan pernah ku ketahui. Tetapi, aku selalu tahu  jalan pulang di dunia. Ke rumah ibu.


Ibu adalah kekuatan dan kelemahan. Kekuatanku menemukan keajaiban-keajaiban kehidupan. Kelemahanku  ada di bayang-bayang  wajahnya yang muram. Di hatinya ada upacara-upacara kesakralan kehidupan, yang mengubah segala menjadi do’a.


Duhai Ibu..!


Kau adalah puncak-puncak kedamaianku yang sahaja. Di belantara hidup yang memagut-magut kegelisahan, aku mencari-cari wajahmu menjadi pusat-pusat ketenangan. Aku tak pernah ragu,  kasih sayangmu bukanlah bayang-bayang. 


Padamu aku menyandarkan keletihan, atas porak porandanya perasaan. Dalam beratnya beban, aku diam. Tetapi, di raut wajahku, engkau mampu menyelam. Di pelukmu ingin aku membenam. Aku tak mampu   melepas tangisan.  Telah tunai sudah dahulu kala dalam buaian. Kini,  aku harus menerjang rintangan sendirian. Aku hanya ingin menatapmu, Ibu.   Teduh wajahmu  cukup  sudah  memberiku   kekuatan.

(2013)